Posts

Showing posts with the label Ideations

Quietness is Elusive

Image
Quietness is a luxury. In a world where people strive to be significant in 15 seconds, where a Tik Tok trend lasted a week-long before turning obsolete. The digital noise is getting so loud even when you're all alone in your room. Quietness is easily forgotten. What even is the sound of your heart? A faint whisper swallowed by the tappings of likes and comments. Quietness is sitting down and letting your body speaks. The very throbbing sound of blood boiling in the veins. Quietness is taking 5 minutes to write this, never distracted by the chiming of tweets and the posts I could make as an insta story which is not true. Quietness will soon make a comeback once we're all deprived of the energy to respond. Once we went haywire by the tiniest enticement. Once we combusted into the air, into dark sad fumes, overwhelmed by stimulus. Quietness is not me yet but fuck I need some.

Karena Rambut Adalah Mahkota

Image
Kalau kamu belum tau, gue punya blog khusus buat menjaga dan merawat rambut keriting. I know, 'kok kesannya centil banget'. But NO, it's not. Kalau kamu melihat budaya indonesia dari sisi si Keriting, kamu bakal ngeliat value based problems yang menurut gue harus segera dieradikasi lewat pendidikan. Hutzz, bahasa gueh kalau udah mulai serius ya bok. Hmh! Ini masalah yang dihadapi sama orang-orang berambut keriting di Indonesia: 1. Mereka terkenal dengan nama "brokoli" atau "kiting" atau "ijuk" Ya, udah biasa orang indo bikin nama panggilan macem-macem, kan. Nggak semuanya ngerasa kesel sama ini, tapi banyak juga yang malah jadi nggak suka dengan tekstur natural rambut mereka. 2. Kata "cantik" dan "keriting" jarang sekali ada di 1 kalimat Di Indonesia, definisi cantik itu sangat homogen. Kulit putih, mata besar, rambut hitam legam lurus terurai panjang. That's it. Dan hal itu yang bikin banyak anak-anak beram...

Accomplisment or Fulfillment (Berhasil atau Puas)

Image
Photographed by David Mao | unsplash.com Belakangan ini, gue mencoba menapak tilas pelajaran-pelajaran hidup yang udah gua cerna selama umur 24. Emang udah jadi kebiasaan sebelum naik umur untuk berpikir ulang tentang arti dibalik menjadi dewasa. Bulan depan gue bakal genap seperempat abad menghirup polusi dunia yang kian hari kian meracun. Nggak banyak yang berubah dari segi fisik, paling gue jadi lebih jaga makan karena kolesterol. Dari sisi religi, gue mencoba lebih membuka mata akan kehadiran Tuhan karena makin tua gua ngerasa makin terbiasa dengan Tuhan sebagai agama, bukan Tuhan sebagai kehidupan. Dari segi karir, gue balik ke titik enol. Titik enol ini selalu jadi topik debat antara Setan Johanna dan Malaikat Johanna. Yang satu bilang ini memalukan untuk orang yang seharusnya udah cukup stabil, yang satu lagi bilang ini adalah sebuah kesempatan untuk terus maju ke arah yang sesuai. Sejujurnya Manusia Johanna udah males gonta-ganti wiring di otak, pengen yang stabil-stab...

Menjadi Jujur dan Dampaknya ke Karya

Image
Taken from Unsplash by: Paolo Imbag Gue nggak inget apa gue udah pernah ngomongin ini atau belum, tapi gue pengen coba nerbangin pesawat kertas ini lagi. Tangkep yah! Jujur itu serem loh. Serem karena nggak ada yang bisa menyangkal kebenarannya kecuali si pembicaranya, tapi nggak ada juga yang bisa menghentikan opini tentangnya kecuali si pendengar. Sejak kecil gue selalu mengedepankan kebutuhan orang lain. Lewat observasi, gue gampang tau apa yang mereka ekspektasikan dari gue. Saat hal ini dikombinasikan dengan jenis 'people pleaser' versi Johanna, gue jadi sering menghabisakan waktu mencari emas di sungai demi orang lain. Padahal yang gue mau adalah berlian. Belajar dari situ, gue mulai menggunakan metode observasi untuk mengedepankan keinginan gue. Caranya, sebelum memaparkan ide gue akan memperhatikan kebiasaan, ketertarikan, serta kepercayaan mereka, lalu menggunakan itu untuk nge-pitch ide-ide gue. Contoh, beberapa bulan sebelum gue lulus SMA gue mulai mempe...

Women in Romance 2015

Image
There has been a game change, Ladies and Gentlemen. Romance as we know it is no longer played under the same set of rules that our parents go through. Here's why: Women have evolved. Yes, we have. Sorry, Gents. When our promised "knight in shinning armor" is taking his precious time to groom his ego while playing another game in the xbox, the "maiden in distress" is taking her last curtain call before a costume change into... well, her empowered self. We've grabbed our bachelor's degrees, we've nailed our jobs and earned our salaries. We've learned to wear whatever we like, and buy whatever we need. We've been taught to say our piece and stand for what we believe. We've placed our value where it's supposed to be; right up here where our heart beats with the vigor of a lioness, and while doing all that kept our hands busy with creating our own opportunities. Gone are the days where women had to rely on men to take care of the...

Coretan merah berbentuk hati

Image
Kita keseringan ngawinin kata cinta dengan panasnya pipi saat diperhatikan org yg spesial, atau saat jantung berdebar keras seperti ingin mendobrak rusuk. Tapi, gimana dengan cinta yang memberi makanan ke orang-orang yang lapar? Cinta yang rela bangun jauh lebih pagi untuk mempersiapkan sarapan demi keluarganya? Gimana dengan Cinta yang keukeuh bikin film tentang pinguin karena ekosistem binatang tersebut hampir kandas dibakar matahari? Masa Cinta hanya diperuntukan untuk Rangga? Bagaimana dengan Sang suam; Lukman Sardi? 7/24 dan AADC 2: Ketika cinta harus memilih Cinta itu datang dalam berbagai wujud, sulit diukur dan sulit dikotak-kotakan. Mungkin karena cinta tidak perlu di deskripsikan, dihitung, atau di masukan ke box. Wong, dirasakan dan dijalani saja sudah bisa membuat orang setengah gila... Apalagi jika dilafalkan dan dikategorikan. Cinta itu ibarat tugas yang berat. Tugas untuk melihat obyek lain seperti kita melihat diri sendiri. PR untuk belajar menyayangi orang ...

Self-publication, Cinta dan Eksistensi

Image
Burung tidak pernah berhenti dari tujuannya, sengaja melipir ke dapan jendela lo, dan berkicau keras seakan mengatakan, "Gue disini! Liat gue, gue berkicau, dan gue penting dalam siklus kehidupan lo!" Begitu juga dengan bunga-bunga di padang. Mereka tidak sengaja berhenti memekarkan kuncup-kuncupnya, supaya elo berhenti di tengah padang dan mulai memperhatikan mereka. "Kok kamu berubah, bunga? Kok kamu nggak seperti biasanya?" bunga-bunga pun buang muka. Jadi, kenapa manusia (kita) begitu kokoh mempertahankan eksistensi dengan mengabarkan potongan-potongan kehidupan lewat foto, video, dan tulisan digital? Mengantisipasi kiriman acungan jempol, beberapa hati dan komentar apresiatif di layar LCD? Apa keresahan dibalik budaya self-publishing ini? Menurut gue, karena media-media ini lah yang menyuarakan dan menjawab, secara jelas, kebutuhan manusia sebagai mahkluk sosial: existence. Eksistensi hidup itu berasal dari pertanyaan, "kenapa gue disini?" Lalu, j...

Menjadi Pemimpi

Image
Sebenernya, nulis itu apa sih? Nulis itu cuma gabungan beberapa huruf yang tau-tau membuat sebuah arti, yang lalu menjadi sebuah cerita. Jika cerita tersebut berhasil membangkitkan imajinasi, lahirlah sebuah ide yang menjadi cikal bakal sebuah revolusi. Lalu, revolusi itu bergulir, memutar bumi beberapa kali lebih cepat dari biasanya, dan akhirnya kita sampai di hari ini. Di hari dimana sebuah kata-kata kembali dirangkai. Menulis itu bisa diibaratkan seperti sebuah roda gigi. Perputarannya menggerakan bagian-bagian lain. Sesuatu yang sangat powerful jika digunakan dengan baik. Sudah 3 minggu belakangan ini, otak gue diasah lagi untuk menulis. Diasah lagi untuk berimajinasi, lalu menjadikannya realitas lewat kata-kata. Ini adalah proses menciptakan. Tapi, lebih berat dari biasanya, proses ini bikin gue super capek dan super stress. Mungkin karena gue juga sedang menciptakan beberapa hal yang lain di kantor, maka proses penciptaan yang satu ini membuat gua merasa terbebani. Tapi....

Age Gap: 10 Tahun, kebanyakan?

Image
Cuma sedikit lagu yang bisa bikin gua meneteskan air mata. Tapi, karena tepatnya setiap lirik lagu dengan kondisi hati gua belakangan ini, akhirnya berhasil lah john mayer menarik butiran-butiran air asin dari bola mata gua (well, technically dari tear duct, but you know what I mean). Lagu si bapak Mayer ini adalah tentang ngak mau makin gede. Menolak kedewasaan karena takut, karena ngak siap. Terdengar agak labil, tapi bro.. emang masa kecil adalah masa paling bahagia, paling ngak punya tanggung jawab. Namun, bukan hal ini yang mau gua omongin.. Setelah berhasil curcol sepanjang 2 paragraf, sebenernya gua mau ngomongin tentang "Age Gap" atar generasi. Di lagu "Stop This Train"-nya John Mayer (iye, lagu yang bikin gua nangis), dia bilang 1 generation is about 10 years time. Contoh, lu anak yang lahir tahun 80-an pasti beda gaya sama anak yang lahir tahun 90-an, apalagi sama anak-anak millenium yang lahir tahun 2000-an (kaya Panji.. temennya Saras). Gua pun...

Ngegandul Lemari Berat, Bro!

Image
Semenjak pulang dari seattle, jumlah baju gua berkurang drastis. Basically, cuma seperempat dari wardribe gua di seattle yang gua bawa balik ke Jakarta. Celana dalem juga, gua kuras abis, dan sisanya cuma yang masih bagus dan enak dipake. Susahnya, minggu-minggu pertama di Jakarta, gua suka ngak punya baju (dan kehabisan celana dalem). So, gua buatin list baju yang minimal harus dibawa buat kalian yang bakal pindah ke kota lain, atau bakal tinggal di kos-an (karena nge-gandul baju selemari itu berat, bro!) : 1. Work (or school) Outfit For obvious reasons.. Lu bakal pake baju-baju beginian most of the time. Untuk gua, that outfit selection looks like: 1 Blazer, 2 Cardigans, 4 Tops, 2 Celana, 2 Rok 2. Baju Rumah Kalau yang ini adalah section favorit gua. Terdiri dari: 2 Celana basket 2 Training shorts 5 Kaos 1 Hoodie bahan flanel yang superrrr nyaman Baju rumah gua juga menduo jadi baju training. So, kalau gua butuh ke gym, gua cuma butuh bawa sports bra, and ...

Jokowi Punya Game!

Image
Visit the game: http://jokowi.site.my.id/ The thing with Jokowi is that he's got the youngsters going. He's the closest face of hope from a sea of untrustworthy politicians. To say that he's going to "Selamatkan Indonesia" is quite a hyperbole, in my cynical mind. Cause, it would take an army of believers to do that. One army that would stand for everything that he's doing, and actually goes to action with him. One united army of indonesians, who love their country and could see beyond what it looks like now. We need someone who can capture that hope of a new Indonesia. Someone who can actually do the things he was tasked with. Who is both capable as well as intelligent at it. Whose work will not end after 4 years, but will be continued by his successor. At the end of the day, that man should be able to capture the aspirations of his people, and has to have a history of listening to the people, and doing what is best for them openly and transpare...

Dances and Sniggers

Image
Days like these don't come often. I had to resist the lure to romanticize it, but I know I will fail. So, why not push the romanticism envelope even further - further than the truth? Pardon me if the words you're about to read will trigger acidic reactions down under. Last night, I went to my first Indo wedding of someone I actually care for. The groom is a friend from the states, much older than I am, had been in this relationship for a couple years short to a decade. His reception was definitely a romantic's dream: pink-purple lights against white sakura trees, food to feed a few hundred mouths, a full jazz band (4 trumpets, 4 violinists, etc etc). It was simpler than other richies' weddings, but one thing that was most evident from the event: The groom's joy. He was beaming. He was vocal. He was bopping and snapping his fingers, walking to the stage! The sweet but reserved Ko Jul is overjoyed! From the stage he pointed at us, tiny group of Seattle-lites, ...

...?

Image
There's this thing that i've noticed being predominantly used in Indonesian text. Not formally, only colloquially. It is the "...?" used after a question, rather than a direct question mark. I assume that it is used to soften the tone of the question. You know, for politeness sake. For example, "Are you alright...?" seems to sound softer in comparison to the straight forward, "Are you alright?" That hesitant pause before the question mark gives a less threatening air, as if it gives you more space to let out an honest answer. I don't get it. Or do I...?

A Certain Pramuhendra

Image
-- Now, for another topic away from myself.. I was browsing though Hendra Gunawan's paintings online when I spotted something that isn't quite the colorful, flowy figured women of Hendra. The image was mostly black with confident strokes of highlights making up harsh lighted forms of 3 surgeons, surrounded by a number of nuns and scholarly men (if not the parliament) focused on a man's laid body. I thought to myself, I've never seen something so contemporary, so striking, and so filled with multinational references, coming out of an Indonesian artist -- even when this was my first time trying to look up indonesian art. So, there I was, intrigued by a new complex name; Ariadhitya Pramuhendra. What a javanese, arian name, I thought to myself. As further research shows, this guy graduated from ITB's printmaking major in 2007. A 29 year old young artist with a global caliber. Honored with "Artist of the Year- 2011" by  Soemardja Art Award , an honorable me...

Ide Keluar

Image
Gw lagi mikirin lagi sebuah ide yg gua dapet pas tahun ke-3 di kuliah. Tentang anak muda Indo, tentang politik, tentang presidental voting. If I wanna get serious in this, I better start doing my research and getting acquainted again with my country. Is this it, or just do it?