Posts

Tepat 2 Minggu di Napa Valley

Menunggu lama selalu bikin gue bosen. Kali ini gue yang ditunggu. Sayangnya, seberapa kerasnya pun gue berusaha, tetep gue gak bisa nyuguhin apa-apa diatas piringan kristal ini. Padahal, telur emas tuh udah dihadapan gue, menunggu gue tuk meleburkannya dan menjadikannya perhiasan cantik. Malam ini, anjir, gue ngerasa kaya pecundang terendah, lebih rendah dari pupuk kompos dari zat buangan manusia. I have so many projects, out of 4 pendings... 1 is down. Thank goodness for that. But the rest of them... ah, for fuck's sake, I have nothing to give. Lucu, gue kira disini gue bakal punya waktu. Ternyata, waktu ada namun space nggak. Akhirnya, tetep aja gue nggak bisa berkarya. Dan, dalam 4 hari gue akan travel sendirian. That's when I have space but no time. Agh, kayanya gue harus menyediri di Seattle. Bangkek. You know what, I think I really have to sneak in some alone time tomorrow. Catch a train to San Francisco, meet my girl, and then to a coffee shop. Alone. With my compu...

Menyudahi Sesuatu 2014

Image
Lo tau moment itu; moment dimana lo tau 100% apa yang harus lo lakukan, tapi lo nggak bisa lakuin? Saat semua bintang disekitar lo, kompas tubuh lo, bahkan bola kristal yang nggak pernah lo percaya juga nyala demi nunjukin hal ini. Moment ini adalah moment gravitasi yang menarik lo jatoh balik ke bumi, menghempas lo sampe jantung lo lepas, jatoh ke tanah. Moment ini adalah saat lo berharap ati ayam yang ada di tusukan sate jeroan itu, boleh dituker sama hati lo yang lagi berdenyut keras mengingatkan elo akan segala angan-angan yang nggak akan, dan sesuai petunjuk bintang, gak bisa terjadi. Semenjak jumat, otak gue sudah menancapkan keputusannya, sampai-sampai urat nadi gue  keuntel-untel, dan tubuh gue konslet dikit. Yeah, otak sudah bertitah, tubuh mulai menurut, dan hati juga -lambat laun harus ikutan arus juga, supaya tetap waras. Gue gak bakal kasih tauin apa bisikan hati ini, tapi bisikannya udah gue main-mainkan kaya kucing mainin bola benang, semenjak bulan... oktober,...

Womanly Rant (i just want to bitch about everything)

Image
Jam 2.22 disini. Di dapur opa yang tertinggal jaman mungkin 30-40 tahun yang lalu. Mencoba menulis sesuatu tentang makanan, sambil mencoba nge-blok makian ke diri sendiri. Oh no, bendungan retak, airnya keluar, dan... dan meledak! Who the hell do I think I am? I want to be a writer? That's the craziest, out of the ordinary statement/idea/imagination ever. How in the world will anyone ever want to pay me for sentences that jumps, words too stoic, shallow breadth of emotion? Some people say you're the worse critique to yourself, I say I am being realistic. You know, the problem is not that I don't trust myself (despite the flood of insecure questions i've written so perfectly on the previous paragraph). The problem is that I am impatient. I cannot sit down and focus on one thing, and pushed on when the mood isn't setting. I'm an undisciplined little girl who's been marked a 24 year old with much talent, but zero ambition. Ambition: like an arrogant and p...

Coretan merah berbentuk hati

Image
Kita keseringan ngawinin kata cinta dengan panasnya pipi saat diperhatikan org yg spesial, atau saat jantung berdebar keras seperti ingin mendobrak rusuk. Tapi, gimana dengan cinta yang memberi makanan ke orang-orang yang lapar? Cinta yang rela bangun jauh lebih pagi untuk mempersiapkan sarapan demi keluarganya? Gimana dengan Cinta yang keukeuh bikin film tentang pinguin karena ekosistem binatang tersebut hampir kandas dibakar matahari? Masa Cinta hanya diperuntukan untuk Rangga? Bagaimana dengan Sang suam; Lukman Sardi? 7/24 dan AADC 2: Ketika cinta harus memilih Cinta itu datang dalam berbagai wujud, sulit diukur dan sulit dikotak-kotakan. Mungkin karena cinta tidak perlu di deskripsikan, dihitung, atau di masukan ke box. Wong, dirasakan dan dijalani saja sudah bisa membuat orang setengah gila... Apalagi jika dilafalkan dan dikategorikan. Cinta itu ibarat tugas yang berat. Tugas untuk melihat obyek lain seperti kita melihat diri sendiri. PR untuk belajar menyayangi orang ...

Self-publication, Cinta dan Eksistensi

Image
Burung tidak pernah berhenti dari tujuannya, sengaja melipir ke dapan jendela lo, dan berkicau keras seakan mengatakan, "Gue disini! Liat gue, gue berkicau, dan gue penting dalam siklus kehidupan lo!" Begitu juga dengan bunga-bunga di padang. Mereka tidak sengaja berhenti memekarkan kuncup-kuncupnya, supaya elo berhenti di tengah padang dan mulai memperhatikan mereka. "Kok kamu berubah, bunga? Kok kamu nggak seperti biasanya?" bunga-bunga pun buang muka. Jadi, kenapa manusia (kita) begitu kokoh mempertahankan eksistensi dengan mengabarkan potongan-potongan kehidupan lewat foto, video, dan tulisan digital? Mengantisipasi kiriman acungan jempol, beberapa hati dan komentar apresiatif di layar LCD? Apa keresahan dibalik budaya self-publishing ini? Menurut gue, karena media-media ini lah yang menyuarakan dan menjawab, secara jelas, kebutuhan manusia sebagai mahkluk sosial: existence. Eksistensi hidup itu berasal dari pertanyaan, "kenapa gue disini?" Lalu, j...

I Love You Guys

Image
By  Alec Vanderboom "I love you". Kata-kata itu suka terlontar begitu saja dari mulut seorang teman. Mereka keluar dengan begitu lantangnya, mengaggetkan pikiran yang tak terbiasa dengan kejujuran emosi dibalik kata-kata itu. Kalau lo kenal gue dalam kehidupan sehari-hari. Kata "I love you" itu gue gunakan hanya pada orang-orang yang beneran gue sayangi. Yes, teman sekalipun. Sering kali, gue katakan itu setelah menertawakan gelagat mereka yang lucu, atau setelah merasakan kehangatan yang jauh dari tingkat normal. Biasanya, kalimatnya jadi terdengar seperti ini, "Bahahaha! I love you guys" atau, "Ah, you guys are tha bomb. I love youuuh!" Dari sana lo bakal langsung tau kalau kalimat "i love you" gue, nggak punya arti romantis atau perasaan yang mendalam, menyelami sukma. Nggak. Maksudnya adalah, gue bener-bener hepi, blessed, honored bisa punya temen-temen kaya mereka. Ada loh, waktu-waktu saat kalimat itu nggak bisa gue lafal...

A Christmas Rant

Image
Seharusnya Natal menjadi salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu (setelah hari kawinan yang ada open bar). Tapi beberapa tahun belakangan ini, gue kesel dikejar hari Natal. Natal bukan lagi malam yang dinikmati di gereja bersama keluarga, atau teman-teman sekota. Kini Natal adalah waktu semua pekerjaan due, semua pressure menumpuk, dan semua amarah mengumpul di ubun-ubun. Sedih nggak, sih? Seharusnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan. The day Jesus was born! Tapi, gue bakal ada di ujung ruangan kebaktian, kurang tidur dan lelah, berdoa agar sehabis acara ini selesai, belum ada team member gue yang sakit, tepar dan ngirimin surat resign. Ini bukan hidup yang gue bayangkan. Bukan juga gaya Natal yang mau gue lihat 4 tahun mendatang. Natal kaya gini itu ibaratnya kaya dipeluk sama orang yang bau ketek. Seharusnya enak, tapi lo nggak bisa nikmatin. Nggak dengan tutup mata, nggak dengan tutup hidung. Akhirnya, berlarilah gue ke facebook. Gue liat ulang foto-foto jaman bah...

Jinx

Berlari dari tanggung jawab. Itu yang sedang gue lakukan sekarang. Seharusnya gue mengetik huruf-huruf pembentuk dunia imajiner di layar yang lain. Seharusnya gue sedang memandang rentetan font Courier New, dan bukan Georgia. Tapi apa daya, pikirannya lagi nggak disana. Ada baiknya gue ngeluarin bayangan seorang laki-laki tak diundang dari benak gue. Mungkin dengan cara itu gue bisa mulai fokus ke realitas. Lucunya, beberapa hari yang lalu gue bersih keras sama seorang temen kalau gue nggak liat ini cowok sebagai seseorang yang spesial. Temen gue ini cuma ngebales kata-kata kosong gue dengan tatapan sarkastik. Ini kenapa gue nggak suka mengutarakan hal-hal nggak penting ke udara. Gue takut kejadian...

An Awkward End

Image
Tonight, I let my back dry off under the air con. The countless push-ups, minute long planks and sit-ups just can't stop me from mellowing down and going into this whirl of quietness. Yes, I'm playing Bon Iver if you're asking. This opening paragraph has nothing to do with what's to come. My apologies, I just had to let you know what my state of being is like. As I wrote on my twitter, emotions aren't universal, as some might suggest. Everyone has a range of them, but not all has the same rainbow of colors. Our colors are picked off from the experiences we've been through, the good and the bad. None can say that their rainbow is better looking than the other, because who can undermine what another has experienced. One can only relish in what they've learnt and hopefully create something unique out of that set of Crayola. The sad part is, not a lot of people know the treasure behind our unique colors, our experiences. The stories they will inspire, or...

Hug me or Leave me

Image
For some reason, I was brought back to a friend's old blog. It still existed, though the last post was marked 2008. I was reminded of the kind of people that we were. The stupidly loving kind of people that we were. You know when you're young you believe everyone. All the sweet promises, all the lies. Then years pass by, you met people who hurt you, betrayed your trust. You began closing your heart, barricading it with coldness and distance. That was me. The barricading part starts young. I was confused. Uprooted from my elementary school besties, faced sudden changes in my daily routines, I took a step back and tell everyone I don't believe in 'best friend'. I thought it was cool to let everyone think i'm this insensitive person who's best at joking and entertaining the public. So, I grew cold within. Despite being surrounded by the sweetest, most loving and accepting friends, my heart wasn't open to love them back completely. About a week ago, I ...

Menjadi Pemimpi

Image
Sebenernya, nulis itu apa sih? Nulis itu cuma gabungan beberapa huruf yang tau-tau membuat sebuah arti, yang lalu menjadi sebuah cerita. Jika cerita tersebut berhasil membangkitkan imajinasi, lahirlah sebuah ide yang menjadi cikal bakal sebuah revolusi. Lalu, revolusi itu bergulir, memutar bumi beberapa kali lebih cepat dari biasanya, dan akhirnya kita sampai di hari ini. Di hari dimana sebuah kata-kata kembali dirangkai. Menulis itu bisa diibaratkan seperti sebuah roda gigi. Perputarannya menggerakan bagian-bagian lain. Sesuatu yang sangat powerful jika digunakan dengan baik. Sudah 3 minggu belakangan ini, otak gue diasah lagi untuk menulis. Diasah lagi untuk berimajinasi, lalu menjadikannya realitas lewat kata-kata. Ini adalah proses menciptakan. Tapi, lebih berat dari biasanya, proses ini bikin gue super capek dan super stress. Mungkin karena gue juga sedang menciptakan beberapa hal yang lain di kantor, maka proses penciptaan yang satu ini membuat gua merasa terbebani. Tapi....

If you had listen...

Image
Pas mau jalan balik ke kantor abis makan siang, Opa manggil gua, ngajak gua ngobrol sendirian. Opa adalah salah satu pendoa di IFGF, dan yah.. gua anggep Opa gua sendiri. Yang selalu ngasih celotehan caring, advice-advice yang sesuai firman, ya itulah si Opa Tatang. Dia bilang sama gue, "Johanna, kamu doa ya sama Tuhan. Kamu dikasih banyak sekali karunia, dan Tuhan mau pake itu. Makanya, kamu rajinin berdoa dan Tuhan akan tunjukin arah ke kamu." Ini kali keduanya Opa ngomong dan doain gua tentang ini. So pasti, hati gue langsung luluh, dan juga bingung. Karena, sekarang aja gue udah merasa di potong-potong, di tarik sana-sini buat memenuhi macem-macem permintaan. Seneng sih, cuma terkuras banget energi gue, cuy. Gue bilang ke Opa kalau gue bakal doa dan seriusin doa-nya, terus gue curcol, "Bingung Opa... Aku banyak maunya!" Sanking banyaknya sampe ngelakuin semuanya. Dan Opa seperti biasa menepuk-nepuk pundak gue dan ingetin gue untuk berdoa lagi. Okey, ...

The Absence of Hope

Image
Times like these, I was forced to think about life again. About death, depression (which is essentially the death of hope) and about the battle each of us faces everyday. P.S.Hoffman on Life, Death, and Happiness (2012) Phillip Seymour Hoffman is an actor I respect. He passed earlier this year, and the video above shows just how crippling fear might be. It robs us out of our peace, it robs us out of our happiness. Sometimes, I think philosophy does that to people. We were demanded to be "aware" of everything: aware of what life is, what true happiness is, what causes this or that. So much so that enjoying the present is dwarfed by our "awareness" of the things that we lack (or not completely understand, like true happiness). Today, the world lost a man that brings hope and joy through every character he portrays. This man, I always think, has an open vulnerability look in his eyes. Maybe it's his bushy brows, or maybe the way he stares into space that m...

Di Interview Sutradara Terkenal

Image
Gua memasuki lorong LO-FI Films Gua baru keinget.. Weekend kemarin, gua berkesempatan buat masuk ke sesi interview untuk a scriptwriting mentorship with Joko Anwar, seorang sutradara Indonesia yang udah menghasilkan karya klasik di hidup gua kaya Janji Joni, dan karya-karya populer kaya: Arisan!, Quickie Express, Forbiden Door, and Modus Anomali. Gua denger berita tentang ini seminggu sebelumnya. Tadinya, gua kira gua udah ngak masuk seleksi. Secara, skenario yang gua kirim cuma halaman pertama, ceritanya dari film yang gua tawarin juga belum bener-bener complete, terus essay-essay kecil gua juga terkesan sangat personal, nyantai dan apa adanya. Gua ngak berharap banyak sih, walaupun pas berdoa gua cuma bilang sama Tuhan, "God, I would love the chance.. But do as you will." (Ngak tau itu iman versi apah..) Eniwei, di sabtu pagi itu, gua bangun dengan kebiasaan yang sama. Buka HP, ngecek path, ngecek insta, ngecek twitter. Lalu ditengah "kesibukan" superflo...

Searching for The Thing

Image
Photo from: http://collinhughes.tumblr.com/ Remember this "Thing" that I mentioned? Tentang search gua mencari visi hidup, atau at least a career path. Nah, gua udah sering banget baca buku tentang "calling", blog posts tentang "jalan hidup", article majalah tentang "visi". Banyak yang suruh gua nulis my 5 year plan, ada yang suruh gua look deep into my heart, ada yang tanya "what makes you righteously angry?" dan yang terakhir untuk duduk, berdoa dan berserah aja sama Tuhan. Mungkin step-step ini bekerja buat beberapa orang, tapi gua... Gua inget, pas jaman2 gua baca buku "Purpose Driven Life," gua sempet berdoa biar Tuhan ilangin semua "mimpi-mimpiku" karena aku cuma mau ngikutin purposenya dia. Alhasil, di umur 24 ini, gua sulit untuk meliat ke hati gua, dan nge-check apa sih yang gua mau, apa sih passion gua . Karena to be honest, gua passionate about so many things, and I am good at pursuing them too. Ho...

Ketemu Gebetan Lama

Image
Susah ngelupain orang yang sering lo perhatiin di sela-sela kelas. Lebih susah lagi kalau dia juga merangkap sebagai ketua kelas lo, dan trainer tim bola cewe.  Setelah bertahun-tahun sejak gua lulus SMP, orang itu muncul lagi. Hari ini gua ketemu mantan gebetan jaman smp.  Dulu, gua punya list yang simple dalam nyari gebetan: pake kacamata, senyumnya baik dan kristen. Asli,  childish  banget ngak sih? Kalo sekarang sih, listnya jadi: loves God, has teachable heart and shares the same vision with me. Anyway.. Cowo yang gua temuin hari ini adalah satu dari kurang lebih 120 murid di angkatan gua yang masuk ke kategori "cowo eligable versi johanna waktu SMP." Gua masih inget gaya dia ngomong: santai, jujur, dan penuh senyum. Dia cowo yang bener-bener bisa gua bilang "genuine", dan ngak banyak cowo yang bisa charmingly genuine kaya dia.  Jadi, beberapa menit sebelum dia keluar dari restoran, gua menghampiri mejanya dan menanyakan nam...

Getting back on the horse

Image
I just went through my blog feeds when I realized that most of my indonesian blogger friends are no longer blogging. For some, life happens and life needs not to be recorded in words but felt through the finger tips of their beings. This blog, however old it might be, has kept a lot of my stories regardless of its importance to me. I've changed language from english back to indonesian, then switch it up some more depending on my mood. I've wrote in celebration, in tears, in my nerdiness, and more often now, in my sudden mellowness. I've become increasingly aware of its small pool of readers, but also grew open to be as candid as I dare to be. Regardless, the blog may not have a scheduled post, but you can be sure that I will keep on writing as long as the blog is properly hosted. It'll be awesome if you can speak and read both languages I write in, but if not, you're not missing much if you google the translations. A little exciting update.. I'm no in an e...

Masih Hidup

Image
Malam tadi gua terbangun dari sebuah mimpi yang biasanya masuk ke kategori mimpi indah gue. Kalau mimpi ini terjadi di hari-hari normal, gua bakal mencoba tidur lagi, dan melanjutkan mimpi itu. Tapi, malem kemarin bukan malam biasanya. Gua lagi ditengah kebimbangan yang cukup prolonged. Biasalah, soal hidup, dan pilihan-pilihan yang tersedia disana. Susahnya, mimpi yang terjadi malam barusan, dibintangi oleh sebuah pilihan yang sudah gua buang jauh-jauh dari planner hidup gua. Laki-laki itu manggil gua "yang" sambil kita jalan-jalan sore. Gua juga dengan segenap pikiran jernih merangkul lengannya. Ngak bohong, buat seorang dengan love language touch kaya gua, rasa itu enak banget. Tapi beberapa detik kemudian, hati gua berteriak, membangunkan imajinasi organik ini dengan tonjokan rasa kecewa. Kembali teringat kalimat seperti: otak lo, hati lo mungkin kuat. Tapi tubuh lo lemah. #petjah abis ngak? Kemungkinan, saat itu jam 3 atau 4 pagi. Yang jelas, akhirnya gua terja...

Kenapa lu ngak pernah pacaran?

Image
Belakangan ini, gua sering ditanya sebuah pertanyaan yang sebelumnya ngak pernah dijadikan bahan pembicaraan: "Kenapa lu ngak pernah pacaran?" Pertanyaan kelas congkelan gini, pastinya dilontarkan di mobil berisi cewe-cewe yang lagi sibuk tukeran puluhan kalimat omong kosong tentang cinta berbumbu galau. Cewe-cewe inilah yang sibuk mencungkil setiap masa lalu, setiap rahasia perasaan, dan setiap permohonan doa di otak sesamanya. Suatu kali setelah makan siang, pertanyaan ini menerobos semua omong kosong tentang mantan, dan langsung nancep ke satu-satunya cewe di mobil yang ngak punya mantan. Jawaban gua? "Um, belum ketemu yang pas aja.." Dan cewe-cewe yang lain mengangguk setuju, sambil berkata "emang nyari yang pas itu susah, jo." Sejujurnya, gua juga ngak pernah cari-cari yang ngepas. Lebih tepatnya, gua ngak pernah nyari. Titik. Beberapa hari selanjutnya, seorang cowo nanya ke gua saat makan malem, "Lu ngak lagi dideketin sama siapapu...

The Thing

Image
The Thing. Itu kan yang selalu kita cari? Seakan-akan, kalau kita nemuin "hal itu" semuanya akan mudah dimengerti. Saat ini, dihidup gua sendiri, gua lagi nyari "my thing". Sebuah hal yang mau gua lakukan karena gua suka dan gua pengen berkarir didalam bidang tersebut. Secara garis besar, itu doang kategori gua buat "my thing" ini. Gua harus suka, dan gua harus mau ngelakuin ini terus-terusan. Mungkin ini adalah dampak sistem pendidikan Generasi Millenial. "Follow your passion" atau "kejar aspirasimu." Itu yang selalu terngiang-ngiang di majalah, film, buku, apapun itu lah. Bahkan guru-guru juga suka memberikan itu sebagai sebuah nasehat. "Kamu akan lebih berhasil kalau kamu melakukan apa yang kamu suka. Sesuai dengan passion kamu." Sayangnya buat gua, gua kebanyakan passion. Alih-alih, kebanyakan mau (side note, alih-alih itu artinya apa sih sebenernya? Gua make-nya tanpa pengetahuan gitu). Gua kebanyakan interests....