Posts

The Eve of 25

Image
It is like I couldn't breathe. Like my lungs had decided to take in a fifth of what it is usually able to process. Like the dark clouds hovering over my head, I felt like mourning. The colors of the sun lit sky does not matter today. I see blue and black all around. It is fear, I know. I am familiar with its soft grip upon my future. Its hushing commentary to my past. I am familiar with it because I still remember the same heaviness from three years ago when I had to leave a town devoid of choice. I remember it because it was the first time that joy felt like a dusty dry rose left forgotten in the cold corner of a room. A touch will shed it to crippled petals on the floor. When I left the town, I thought that I will have a better chance of restarting clean. An open road that will take me anywhere. Being a self professed optimist, I did not think that a simple location change will affect the course of my life, but it did. I gave up the pursuit of passion and let peopl...

Accomplisment or Fulfillment (Berhasil atau Puas)

Image
Photographed by David Mao | unsplash.com Belakangan ini, gue mencoba menapak tilas pelajaran-pelajaran hidup yang udah gua cerna selama umur 24. Emang udah jadi kebiasaan sebelum naik umur untuk berpikir ulang tentang arti dibalik menjadi dewasa. Bulan depan gue bakal genap seperempat abad menghirup polusi dunia yang kian hari kian meracun. Nggak banyak yang berubah dari segi fisik, paling gue jadi lebih jaga makan karena kolesterol. Dari sisi religi, gue mencoba lebih membuka mata akan kehadiran Tuhan karena makin tua gua ngerasa makin terbiasa dengan Tuhan sebagai agama, bukan Tuhan sebagai kehidupan. Dari segi karir, gue balik ke titik enol. Titik enol ini selalu jadi topik debat antara Setan Johanna dan Malaikat Johanna. Yang satu bilang ini memalukan untuk orang yang seharusnya udah cukup stabil, yang satu lagi bilang ini adalah sebuah kesempatan untuk terus maju ke arah yang sesuai. Sejujurnya Manusia Johanna udah males gonta-ganti wiring di otak, pengen yang stabil-stab...

Menjadi Jujur dan Dampaknya ke Karya

Image
Taken from Unsplash by: Paolo Imbag Gue nggak inget apa gue udah pernah ngomongin ini atau belum, tapi gue pengen coba nerbangin pesawat kertas ini lagi. Tangkep yah! Jujur itu serem loh. Serem karena nggak ada yang bisa menyangkal kebenarannya kecuali si pembicaranya, tapi nggak ada juga yang bisa menghentikan opini tentangnya kecuali si pendengar. Sejak kecil gue selalu mengedepankan kebutuhan orang lain. Lewat observasi, gue gampang tau apa yang mereka ekspektasikan dari gue. Saat hal ini dikombinasikan dengan jenis 'people pleaser' versi Johanna, gue jadi sering menghabisakan waktu mencari emas di sungai demi orang lain. Padahal yang gue mau adalah berlian. Belajar dari situ, gue mulai menggunakan metode observasi untuk mengedepankan keinginan gue. Caranya, sebelum memaparkan ide gue akan memperhatikan kebiasaan, ketertarikan, serta kepercayaan mereka, lalu menggunakan itu untuk nge-pitch ide-ide gue. Contoh, beberapa bulan sebelum gue lulus SMA gue mulai mempe...

Women in Romance 2015

Image
There has been a game change, Ladies and Gentlemen. Romance as we know it is no longer played under the same set of rules that our parents go through. Here's why: Women have evolved. Yes, we have. Sorry, Gents. When our promised "knight in shinning armor" is taking his precious time to groom his ego while playing another game in the xbox, the "maiden in distress" is taking her last curtain call before a costume change into... well, her empowered self. We've grabbed our bachelor's degrees, we've nailed our jobs and earned our salaries. We've learned to wear whatever we like, and buy whatever we need. We've been taught to say our piece and stand for what we believe. We've placed our value where it's supposed to be; right up here where our heart beats with the vigor of a lioness, and while doing all that kept our hands busy with creating our own opportunities. Gone are the days where women had to rely on men to take care of the...

5 Alasan Gue Nggak Pernah Jatuh Hati

Image
5. Belum ada cowok yang bener-bener bisa menarik perhatian gue. Ya, secara pikiran, hati dan wajah. Yang terakhir terdengar dangkal banget, tapi lo nggak mau kan merinding tiap kali mikirin dia tersenyum ke elo dengan gigi tonggosnya. 4. Kenapa buru-buru? Masih banyak list kerjaan gue untuk 3 tahun kedepan. Kalau pun ada cowok yang mau nyelip di buku jadwal gue, dia harus... harus... mau nyelip terus-terusan. Selamanya *cue: angin semilir* 3. Karena gue nggak suka pikirannya digentayangin makhluk lain. Alasan gue sering jatohin kecap, alasan gue selalu nggak bisa minum air putih dengan rapih, alasan gue teriak-teriak gak jelas, atas suka bengong, dan sering ketinggalan ini itu... Ya, tidak produktif-nya gue itu gara-gara jatuh hati. 2. Gue nggak suka perasaan ini. Pernah sekali nyoba. Berasa kaya deg-degan tapi nge-high tapi juga mau muntah. Bahkan naik kicir-kicir di Dufan pun nggak bisa ngalahin rasa di cuci perut sama perasaan. 1. Atau, semua itu adalah alasan semata. Se...

Mungkin Anda Lelah

Image
Nggak jarang merasa begini akhir-akhir ini. Satu kerjaan berakhir, ada lima lagi menunggu. Rasanya mumet banget, dan semua tekanan mulai ngeberatin jantung. Belum lagi ada side stories di hidup gue yang seharusnya menyenangkan tapi guenya malah risih. Mungkin sudah waktunya gue mengundurkan diri dari kesibukan-kesibukan nggak jelas ini. Dari luntang-lantung melakukan sesuatu yang 'bukan gue'. Atau, mungkin gue harus berhenti berlari dari kenyataan, dan plant my feet on solid ground. Face the giants and conquer lands with God. Mungkin sudah waktunya roh gue menyala-nyala lagi.

Dance Again

Image
photo taken from  here Hold me, cause I'm not complete. Pull me into your arms, cause you know I'm always seeking out for something else. My life falls piece by piece into the floor when you're not close. But like the most hard headed crook that I am, I will always dance off course. Are we still dancing, Dear? Are we still waltzing to the rhythms of our hearts? Cause I can hardly hear the music, the melodies that once follows our steps. I miss you. I miss us. It's stupid cause I've been saying this since years ago. I don't wanna stray, I want to stay. Right there with you -- wherever there might be. This is the part where I learn to be an adult, and treated us more than our feelings. Meet me tonight, and ask me out for a dance. I will, I will dance with you. Written while listening to  James Bay 's 'Let It Go'

Nampaknya Butuh Pembalut

Sangat menyebalkan, detik-detik seperti ini. Saat jantung berpacu cepat walau hati mendambakan ketenangan. Seperti bertapa sambil membuka kartu di atas meja poker. Padahal hujan harusnya merendahkan tensi. Kenyataannya, peperangan batin lebih berisik dari deru mobil membelah kubangan air. Mungkin aku terlalu lama berjuang sendiri. Terlalu arogan tak mau meminta bantuan. Hanya kuat tertawa dan mengabaikan kondisi. Ah, apalah aku ini, kalau nggak dikasihani yang maha esa. Ada saatnya Si Sanguine terkapar diatas lantai dingin. Memandang langit-langit kantor, membayangkan awan. Nampaknya Butuh Pembalut

Buat Kamu

Buat kamu yang sudah menguras habis air di tubuhku. Buat kamu yg bikin aku sakit perut, pusing mikirin ini itu. Buat kamu yang bikin aku terjaga sampai jam empat pagi, nggak bisa tidur. Makasih. Sekarang waktunya kamu untuk pergi.

Twas 2014 | Tis 2015

Image
Royal St in New Orleans on a sunny afternoon Ini adalah 5 hal yang gue pelajari di tahun 2014 1. Nggak harus tau 100% sebelum melangkah Waktu gue ngedaftar sebagai salah satu peserta mentoring script-writting, gue nggak tau apa-apa soal nulis. Ya, pengalaman gue cuma nulis blog, dan nulis buat theater. Mencemplung itu serem sih pertamanya. Apa lagi, gue jauh lebih jarang nonton film dibandingin peserta-peserta yang lain. Tapi lama kelamaan, yang namanya skill kalau diasah bakal makin tajem. Jadi, gue belajar kalau lo berani, apa aja bisa dimulai. Sekarang tinggal menyelesaikan ke finish line-nya aja yang jadi tantangan. 2. Marah itu sehat Di tahun 2013, gue bisa dengan bangga bilang kalau gue itu jarang marah. Tapi di tahun 2014, demi uranus, gue marah melulu! Orang-orang bisa dengan santai bilang "tenang-tenang", tapi kalau gue tenang, asam lambung gue yang melunjak dan masuk lah gue ke rumah sakit. Marah itu sehat, kok. Marah itu natural. Tapi, lo pilih-pilih al...

New Orleans with No Wallet!

Image
I'm not big on cats, but this boy right here... He's everything. I'm writing from a bed and breakfast in New Orleans. Brittney and Jamie, the owners of this lovely place, own 2 cats. This guy named Gordo, for some reason really likes to chill around me. On my first night he accompany me through my midnight muffuleta snack. And tonight, he sat on my lap, cutely stopped me from writing, and purred as I stroked him. Thankfully, he's no dog. If he's a dog, he would've sat there all the damn time. But being a cat, he leaped out after he has enough of human time to lick his balls to his heart's content (right in front of my face). Go cats. My time in New Orleans has been great. I'm grateful for a lot of walks alone, bar and music time, art walk time, glorious food time. But one that couldn't be beat is the story of how I left my wallet in Seattle. Since the story hasn't come to an end yet, I will continue this post on my way back to Indonesia....

2014: Songs that Ear Wormed

Image
Ini lagu-lagu favorit gueh tahun kemarin. Kalau belum denger, cobain deh! 1. Fave rock music: R U Mine - Arctic Monkeys 2. Fave trip-hop (sexy) music: - Warm Water - BANKS - People - Kye Kye 3. Fave oldies: Michael Jackson - Love Never Felt So Good 4. Fave youtube music: Passion x Tori Kelly - Brokenhearted cover Passion - Suddenly  5. Fave remixes: Henry Green - Electric Feel  (Gespelu Downcast Edit) Ooh Kill Em - Terio  (Caked Up Remix) 6. Fave Christian song: Holy Spirit - Bethel 7. Fave Indonesian songs: Kunto Aji - Sudah Terlalu Lama Sendiri Mr Sonjaya - Musim Penghujan 8. Fave Asian songs: Yuna - Lelaki Kyoto Protocol - Jelita 8. Fave Jazz: Chet Baker returned ever since I bought his album. The one I linked is my favorite album of his. Kate Davis was a new discovery. This chick is everything. 9. Fave Pop: Katy Perry - This is How We Do 10. Fave RnB: D'Angelo - Real Love

Tepat 2 Minggu di Napa Valley

Menunggu lama selalu bikin gue bosen. Kali ini gue yang ditunggu. Sayangnya, seberapa kerasnya pun gue berusaha, tetep gue gak bisa nyuguhin apa-apa diatas piringan kristal ini. Padahal, telur emas tuh udah dihadapan gue, menunggu gue tuk meleburkannya dan menjadikannya perhiasan cantik. Malam ini, anjir, gue ngerasa kaya pecundang terendah, lebih rendah dari pupuk kompos dari zat buangan manusia. I have so many projects, out of 4 pendings... 1 is down. Thank goodness for that. But the rest of them... ah, for fuck's sake, I have nothing to give. Lucu, gue kira disini gue bakal punya waktu. Ternyata, waktu ada namun space nggak. Akhirnya, tetep aja gue nggak bisa berkarya. Dan, dalam 4 hari gue akan travel sendirian. That's when I have space but no time. Agh, kayanya gue harus menyediri di Seattle. Bangkek. You know what, I think I really have to sneak in some alone time tomorrow. Catch a train to San Francisco, meet my girl, and then to a coffee shop. Alone. With my compu...

Menyudahi Sesuatu 2014

Image
Lo tau moment itu; moment dimana lo tau 100% apa yang harus lo lakukan, tapi lo nggak bisa lakuin? Saat semua bintang disekitar lo, kompas tubuh lo, bahkan bola kristal yang nggak pernah lo percaya juga nyala demi nunjukin hal ini. Moment ini adalah moment gravitasi yang menarik lo jatoh balik ke bumi, menghempas lo sampe jantung lo lepas, jatoh ke tanah. Moment ini adalah saat lo berharap ati ayam yang ada di tusukan sate jeroan itu, boleh dituker sama hati lo yang lagi berdenyut keras mengingatkan elo akan segala angan-angan yang nggak akan, dan sesuai petunjuk bintang, gak bisa terjadi. Semenjak jumat, otak gue sudah menancapkan keputusannya, sampai-sampai urat nadi gue  keuntel-untel, dan tubuh gue konslet dikit. Yeah, otak sudah bertitah, tubuh mulai menurut, dan hati juga -lambat laun harus ikutan arus juga, supaya tetap waras. Gue gak bakal kasih tauin apa bisikan hati ini, tapi bisikannya udah gue main-mainkan kaya kucing mainin bola benang, semenjak bulan... oktober,...

Womanly Rant (i just want to bitch about everything)

Image
Jam 2.22 disini. Di dapur opa yang tertinggal jaman mungkin 30-40 tahun yang lalu. Mencoba menulis sesuatu tentang makanan, sambil mencoba nge-blok makian ke diri sendiri. Oh no, bendungan retak, airnya keluar, dan... dan meledak! Who the hell do I think I am? I want to be a writer? That's the craziest, out of the ordinary statement/idea/imagination ever. How in the world will anyone ever want to pay me for sentences that jumps, words too stoic, shallow breadth of emotion? Some people say you're the worse critique to yourself, I say I am being realistic. You know, the problem is not that I don't trust myself (despite the flood of insecure questions i've written so perfectly on the previous paragraph). The problem is that I am impatient. I cannot sit down and focus on one thing, and pushed on when the mood isn't setting. I'm an undisciplined little girl who's been marked a 24 year old with much talent, but zero ambition. Ambition: like an arrogant and p...

Coretan merah berbentuk hati

Image
Kita keseringan ngawinin kata cinta dengan panasnya pipi saat diperhatikan org yg spesial, atau saat jantung berdebar keras seperti ingin mendobrak rusuk. Tapi, gimana dengan cinta yang memberi makanan ke orang-orang yang lapar? Cinta yang rela bangun jauh lebih pagi untuk mempersiapkan sarapan demi keluarganya? Gimana dengan Cinta yang keukeuh bikin film tentang pinguin karena ekosistem binatang tersebut hampir kandas dibakar matahari? Masa Cinta hanya diperuntukan untuk Rangga? Bagaimana dengan Sang suam; Lukman Sardi? 7/24 dan AADC 2: Ketika cinta harus memilih Cinta itu datang dalam berbagai wujud, sulit diukur dan sulit dikotak-kotakan. Mungkin karena cinta tidak perlu di deskripsikan, dihitung, atau di masukan ke box. Wong, dirasakan dan dijalani saja sudah bisa membuat orang setengah gila... Apalagi jika dilafalkan dan dikategorikan. Cinta itu ibarat tugas yang berat. Tugas untuk melihat obyek lain seperti kita melihat diri sendiri. PR untuk belajar menyayangi orang ...

Self-publication, Cinta dan Eksistensi

Image
Burung tidak pernah berhenti dari tujuannya, sengaja melipir ke dapan jendela lo, dan berkicau keras seakan mengatakan, "Gue disini! Liat gue, gue berkicau, dan gue penting dalam siklus kehidupan lo!" Begitu juga dengan bunga-bunga di padang. Mereka tidak sengaja berhenti memekarkan kuncup-kuncupnya, supaya elo berhenti di tengah padang dan mulai memperhatikan mereka. "Kok kamu berubah, bunga? Kok kamu nggak seperti biasanya?" bunga-bunga pun buang muka. Jadi, kenapa manusia (kita) begitu kokoh mempertahankan eksistensi dengan mengabarkan potongan-potongan kehidupan lewat foto, video, dan tulisan digital? Mengantisipasi kiriman acungan jempol, beberapa hati dan komentar apresiatif di layar LCD? Apa keresahan dibalik budaya self-publishing ini? Menurut gue, karena media-media ini lah yang menyuarakan dan menjawab, secara jelas, kebutuhan manusia sebagai mahkluk sosial: existence. Eksistensi hidup itu berasal dari pertanyaan, "kenapa gue disini?" Lalu, j...

I Love You Guys

Image
By  Alec Vanderboom "I love you". Kata-kata itu suka terlontar begitu saja dari mulut seorang teman. Mereka keluar dengan begitu lantangnya, mengaggetkan pikiran yang tak terbiasa dengan kejujuran emosi dibalik kata-kata itu. Kalau lo kenal gue dalam kehidupan sehari-hari. Kata "I love you" itu gue gunakan hanya pada orang-orang yang beneran gue sayangi. Yes, teman sekalipun. Sering kali, gue katakan itu setelah menertawakan gelagat mereka yang lucu, atau setelah merasakan kehangatan yang jauh dari tingkat normal. Biasanya, kalimatnya jadi terdengar seperti ini, "Bahahaha! I love you guys" atau, "Ah, you guys are tha bomb. I love youuuh!" Dari sana lo bakal langsung tau kalau kalimat "i love you" gue, nggak punya arti romantis atau perasaan yang mendalam, menyelami sukma. Nggak. Maksudnya adalah, gue bener-bener hepi, blessed, honored bisa punya temen-temen kaya mereka. Ada loh, waktu-waktu saat kalimat itu nggak bisa gue lafal...

A Christmas Rant

Image
Seharusnya Natal menjadi salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu (setelah hari kawinan yang ada open bar). Tapi beberapa tahun belakangan ini, gue kesel dikejar hari Natal. Natal bukan lagi malam yang dinikmati di gereja bersama keluarga, atau teman-teman sekota. Kini Natal adalah waktu semua pekerjaan due, semua pressure menumpuk, dan semua amarah mengumpul di ubun-ubun. Sedih nggak, sih? Seharusnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan. The day Jesus was born! Tapi, gue bakal ada di ujung ruangan kebaktian, kurang tidur dan lelah, berdoa agar sehabis acara ini selesai, belum ada team member gue yang sakit, tepar dan ngirimin surat resign. Ini bukan hidup yang gue bayangkan. Bukan juga gaya Natal yang mau gue lihat 4 tahun mendatang. Natal kaya gini itu ibaratnya kaya dipeluk sama orang yang bau ketek. Seharusnya enak, tapi lo nggak bisa nikmatin. Nggak dengan tutup mata, nggak dengan tutup hidung. Akhirnya, berlarilah gue ke facebook. Gue liat ulang foto-foto jaman bah...

Jinx

Berlari dari tanggung jawab. Itu yang sedang gue lakukan sekarang. Seharusnya gue mengetik huruf-huruf pembentuk dunia imajiner di layar yang lain. Seharusnya gue sedang memandang rentetan font Courier New, dan bukan Georgia. Tapi apa daya, pikirannya lagi nggak disana. Ada baiknya gue ngeluarin bayangan seorang laki-laki tak diundang dari benak gue. Mungkin dengan cara itu gue bisa mulai fokus ke realitas. Lucunya, beberapa hari yang lalu gue bersih keras sama seorang temen kalau gue nggak liat ini cowok sebagai seseorang yang spesial. Temen gue ini cuma ngebales kata-kata kosong gue dengan tatapan sarkastik. Ini kenapa gue nggak suka mengutarakan hal-hal nggak penting ke udara. Gue takut kejadian...